Samboja, Kutai Kartanegara — Salat bukan hanya tentang menghafal bacaan dan mengikuti gerakan, tetapi juga tentang memahami bagaimana setiap gerakan dilakukan dengan benar. Hal tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang diberikan mahasiswa KKN UINSI Samarinda kepada siswa kelas 6 SDN 029 Samboja.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai tata cara salat. Para siswa diajak untuk kembali memahami tahapan-tahapan dalam salat sebelum nantinya mencoba mempraktikkannya secara langsung. Pembelajaran dilakukan dengan suasana yang santai agar siswa dapat mengikuti materi dengan nyaman dan lebih mudah memahami apa yang disampaikan.

Setelah mendengarkan penjelasan, anak-anak tidak hanya diminta mengingat kembali tata cara salat. Mereka langsung diajak untuk mencobanya bersama-sama. Satu per satu gerakan dipraktikkan, sementara mahasiswa KKN ikut mendampingi dan mengoreksi jika masih ada gerakan yang kurang tepat

Praktik kemudian dilanjutkan dengan pendampingan yang lebih dekat. Siswa dibiarkan mengikuti setiap gerakan dengan tenang, sementara mahasiswa KKN memperhatikan dan mengoreksi gerakan yang masih kurang tepat. Mulai dari posisi tangan, kaki, hingga cara melakukan sujud, semuanya diperhatikan agar siswa tidak hanya mengetahui urutannya, tetapi juga terbiasa melakukannya dengan benar.
Beberapa gerakan bahkan dijelaskan kembali secara sederhana agar mudah dipahami. Saat memasuki gerakan sujud, misalnya, siswa diarahkan mengenai posisi tangan dan kaki yang sesuai bagi laki-laki maupun perempuan. Koreksi dilakukan langsung ketika ada gerakan yang masih kurang tepat, sehingga siswa bisa segera mencoba dan memperbaikinya.

Setelah praktik selesai, kegiatan belum langsung berakhir. Ada satu bagian lain yang sengaja disiapkan untuk meninggalkan kenangan dari pertemuan bersama siswa kelas 6, yaitu Pohon Harapan.
Siswa diajak menuliskan pesan, kesan, atau harapan mereka pada kertas yang telah disiapkan. Satu per satu, tulisan tersebut kemudian ditempelkan pada Pohon Harapan yang sudah dibuat oleh mahasiswa KKN. Sederhana memang, tetapi dari tulisan-tulisan kecil itulah tersimpan cerita tentang apa yang mereka rasakan setelah mengikuti kegiatan bersama.

Salah seorang siswa kemudian bertanya,
“Kak, buat apa Pohon Harapan itu?”
Pertanyaan sederhana itu kemudian membuat saya menjelaskan bahwa pohon tersebut dibuat sebagai tanda bahwa setiap manusia pasti memiliki harapan dan sesuatu yang ingin dicapai.
Namun, pertanyaan berikutnya justru membuat percakapan menjadi lebih menarik.
“Kalau harapannya nggak terwujud gimana, Kak?”
Saya menjawab,
“Nggak apa-apa kalau belum terwujud. Setidaknya kita sudah pernah berharap dan menuliskan apa yang kita inginkan saat ini.”
Mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa. Namun, dari pertanyaan itu saya justru melihat bahwa bagi anak-anak, sebuah harapan bukan hanya tentang apakah nantinya akan terwujud atau tidak, tetapi juga tentang keberanian untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan.
Momen tersebut pun menjadi salah satu kenangan yang tersimpan dari pertemuan kali ini. Sebelum berpisah, mahasiswa KKN dan para siswa mengabadikan kebersamaan mereka dalam sebuah foto bersama.

Senyum bersama menjadi penutup dari pertemuan kali ini. Dari belajar gerakan salat, mencoba mempraktikkannya, sampai menuliskan kenangan di Pohon Harapan, ada banyak hal kecil yang membuat kegiatan bersama siswa kelas 6 SDN 029 Samboja terasa berkesan.
Semoga apa yang dipelajari hari itu tidak berhenti di ruang kelas saja, tetapi bisa terus dipraktikkan dan menjadi bagian dari kebiasaan mereka sehari-hari.







